Minggu, 31 Oktober 2010

Papua yang Terlupakan
Banjarmasinpost.co.id - Senin, 11 Oktober 2010
example2 Foto:
RABU (6/10) rakyat Amerika melalui Menteri Luar Negeri AS Hillary Rodham Clinton menyampaikan rasa keprihatinan dan simpati atas bencana banjir bandang di Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat.

Apa pun bentuknya, ucapan simpati yang dilayangkan dalam bentuk surat itu sudah selayaknya mendapat apresiasi, mengingat lokasi bencana yang berada jauh di bagian timur Indonesia itu sangat terpencil.

Saking terpencilnya, bencana besar itu nyaris luput dari perhatian media. Berita mengenai banjir bandang di Wasior mulai ramai di media nasional satu hari setelah kejadian. Padahal dari sisi besarnya peristiwa dan banyaknya jumlah korban, bencana itu tak kalah dengan gempa di Padang setahun lalu.

Hingga kemarin dinyatakan jumlah korban tewas 102 jiwa, korban yang berhasil dievakuasi dari Teluk Wondama 1.994 jiwa. Sebanyak 1.859 jiwa dievakuasi ke Manokwari Ibukota Papua Barat dan 135 jiwa dievakuasi ke Nabire. Selain itu 117 orang dinyatakan hilang, 14 ditemukan dalam keadaan luka-luka, 535 luka ringan, 185 luka berat.

Apresiasi terhadap ucapan simpati dari rakyat Amerika bisa lebih besar lagi mengingat 13 wakil rakyat yang duduk di kursi DPR justru melanjutkan rencana keberangkatan studi banding ke Amerika Serikat.

Perhatian Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono terhadap bencana di Wasior juga terlihat masih mengecewakan. Setelah ditunggu-tunggu dan menuai banyak kritik, akhirnya memberikan pernyataan resmi terkait bencana di Wasior Jumat (8/10). Tapi tetap saja terlambat.

Lagi-lagi, reaksi terhadap banjir bandang di Wasior membuktikan Papua masih menjadi daerah yang terlupakan bagi sebagian saudara-saudara setanah air mereka di daerah lain. Sejak bergabung dengan NKRI pada 1969, Papua nyaris tak tersentuh pembangunan.

Hingga 2010, nyaris belum ada jalan raya yang menghubungkan antarkabupaten di Papua dan Papua Barat. Ini berarti jalan raya ke daerah-daerah yang lebih kecil hampir tak ada. Transportasi hanya bisa ditempuh dengan jalur udara, laut dan sungai. Kenyataan ini semakin menyakitkan bagi masyarakat Papua, mengingat di tanah mereka terdapat tambang emas yang disebut-sebut sebagai yang terbesar di dunia. Selain emas, Papua juga sangat kaya akan sumber energi gas alam dan yang lebih besar lagi adalah kekayaan hutannya.

Selama ini rakyat Papua hanya bisa menahan rasa iri ketika melihat kemajuan provinsi lain yang sudah jauh meninggalkan mereka. Saudara kita di Papua yang sebagian besar masih hidup di bawah garis kemiskinan hanya bisa ‘numpang’ menikmati kemewahan di daerah lain lewat tayangan sinetron dan acara televisi setiap hari.

Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Penderitaan warga Wasior terasa makin menyayat hati ketika mulai muncul dugaan banjir bandang disebabkan oleh pembalakan liar yang rata- rata dilakukan oleh pengusaha dari luar daerah. Selama ini banyak orang dari luar daerah yang menikmati kekayaan Papua tanpa peduli terhadap nasib warga sekitar.

Inikah balasan bagi kesetiaan terhadap NKRI yang masih diikrarkan oleh sebagian besar warga Papua? Sampai kapan mereka akan bertahan jika terus menerus hanya dijadikan saksi atas kemajuan daerah lain dan pengerukan kekayaan alam mereka?

Semoga sikap pemerintah dan anggota dewan yang terkesan melupakan Papua tak diikuti oleh sebagain rakyat Indonesia. Uluran tangan dalam bentuk apapun untuk membantu saudara kita di Papua akan menjadi bukti bahwa masih ada saudara-saudara se Tanah Air yang ikut merasakan penderitaan mereka. Kita tentu tak akan rela jika saudara kita di Papua menatap kita seperti kita menatap tentara penjajah Belanda ketika Indonesia belum merdeka.

Tidak ada komentar: